Kamis, 11 Maret 2010

Grow with Character! (49/100) Series by Hermawan Kartajaya - Inspirasi ''Circular'' (Bukan Linear ) dari Peter Senge

Inspirasi ''Circular'' (Bukan Linear ) dari Peter Senge

DALAM menulis konsep-konsep marketing, terutama pada saat awal, saya banyak terpengaruh pemikiran Peter Senge. Buku Peter yang terkenal adalah The Learning Organization. Di antaranya dia menyatakan bahwa organisasi yang tidak ''belajar'' terus-menerus akan habis!

Dalam model saya, kalau situasi persaingan berubah dari 2C ke 4C, strategi bersaing sebuah perusahaan juga harus ''bergeser''. Tapi, pergeseran kan tidak semudah yang dibayangkan. Yang namanya change pasti susah karena memerlukan seorang strong leader yang berani mengajak orang lain untuk berubah pula.

Selain itu, semua orang yang terlibat dalam change harus ''menguasai'' kompetensi baru. Belum tentu kompetensi lamanya bisa dipakai. Kalau mau terus dipakai, bahkan bisa menimbulkan kegagalan.Jadi, pengetahuan masa lalu yang mendasari kompetensi lama bukan jadi asset lagi. Bahkan, bisa jadi liability.

Karena itu, orang-orang itu perlu ''belajar'' terus supaya tidak ketinggalan. Kalau bisa, malah belajar ''lebih cepat'' dari yang diharuskan. Supaya ''lebih siap'' menghadapi perubahan yang makin cepat saja. Nah, organisasi yang mendorong hal-hal seperti itulah yang oleh Peter Senge disebut the learning organization.

Proses belajar tersebut harus terjadi terus-menerus seperti suatu 'lingkaran''. Sebab, Peter jelas memihak pada model ''circular'' dari pada ''linear''.

Sederhananya begini. Kalau Anda menjalankan PDCA ( plan, do, check, action), kan memang ya harus berputar terus. Tidak hanya bisa sekali selesai. Begitu ada corrective action, kita membuat new plan. Tapi, setelah new plan dieksekusi (do), ya harus di-check lagi. Kemudian, ada corrective action lagi. Dan seterusnya dan seterusnya!

Begitu juga dengan why, what, how yang saya jelaskan kemarin. Dalam Konsep Marketing 2000 yang versi 1.0 atau yang asli, saya menggambarkan tiga kata kunci itu sebagai suatu lingkaran dengan anak panah dua arah. Karena kebetulan hanya ada tiga kata, maknanya bisa fleksibel.

Walaupun setelah sistematik sebaiknya mulai cari reasoning dulu (why), baru menetapkan strategi (what), baru ke taktik (how), di lapangan bisa lain terjadinya.

Kadang-kadang, Anda mendapati suatu situasi yang urgent, sehingga harus cepat ada tindakan. Dalam model seventh habit, ada yang disebut urgent but not important. Itu yang bahaya! Sebab, kita ''terpaksa'' melakukan suatu tindakan yang tidak penting. Misalnya, mengangkat panggilan handphone di suatu rapat yang serius. Ternyata, yang diomongin hanya masalah sepele.

Itu masih lumayan. Gimana kalau target Anda menjelang akhir bulan ''jauh'' dari tercapai, tapi kompetitor mendadak ''banting harga''? Kalau tidak ikut ''banting harga'', target bulan itu tidak tercapai. Kalau banting harga, mungkin tidak akan terlalu ''kalah'' di lapangan. Tapi, bisa merusak citra jangka panjang.

Karena itu, suatu how yang harus diputusin harus ''dikembalikan'' ke why dan what. Alasan cukup kuat untuk melakukan hal itu (why)? Apakah tidak off track dari strategi (what)?

Kalaupun ada suatu keputusan taktikal (how) yang sudah dilaksanakan, tetap harus dilakukan analisisnya (why) dan di-review ke-in-line-annya dengan strategi yang ada (what). Supaya ada tindakan lain (how) yang bisa menetralisasi (kalau off track) atau memperkuat (kalau sudah on track).

Di kasus lain lagi, seorang entrepreneur langsung menentukan strategi (what) begitu saja tanpa analisis mendalam (why). Para entrepreneur malah biasanya bisa langsung ke how. Salah?

Ya kalau menurut sistematika, harusnya why dulu, baru what dan how. Tapi, entrepreneur kan gak pernah berpikir ''serial'' atau ''linear'' seperti itu. Mereka lebih suka bergaya ''paralel'' dan ''circular''.

Artinya? Bisa melakukan dua atau tiga tindakan sekaligus (paralel) dan bisa gampang ''balik'' bila perlu (circular).

Seorang entrepreneur punya sense sangat kuat dan biasanya langsung bertindak (how). Tapi, jangan lupa, belum tentu dia tidak melakukan analisis (why). Karena dia biasanya live with his business, analisis itu terjadi secara ''alamiah''. Begitu juga, belum tentu apa yang dilakukan tidak in-line dengan strategi (what).

Semua sudah ada di backmind dia. Karena itu, sadar atau tidak, apa yang dilakukan sudah di dalam kerangka strategi yang ada. Itu cara berpikir circular pada aplikasi the rule of three why, what, how.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar