Kamis, 11 Maret 2010

Grow with Character! (23/100) Series by Hermawan Kartajaya

Marketing is Everything, Everything is Marketing!

SELAIN aktif di berbagai organisasi nonprofit untuk mengembangkan network, saya juga aktif membantu Pemerintah Daerah Jawa Timur. Sejak bekerja di Sampoerna, berkat Pak Alim Sutrisno yang bos Dharmala, saya jadi kenal Gubernur Jawa Timur waktu itu, Sularso.

Saya sempat beberapa kali ikut kunjungan kerja beliau ke luar negeri mewakili Sampoerna. Di situlah saya sering bertemu dengan berbagai pengusaha yang sering ikut kunjungan gubernur. Mereka sering diajak gubernur keluar negeri untuk dipertemukan dengan pengusaha luar negeri.

Diharapkan, pengusaha luar akan lebih mau investasi di Jawa Timur karena sudah kenal calon partnernya. Jadi, walaupun waktu itu belum ada gerakan besar-besaran untuk menarik investasi, Pak Sularso sudah getol melakukan itu.

Selain itu, saya melihat bagaimana gubernur berusaha menjadi salesman bagi produk-produk Indonesia keluar negeri. Maspion, yang waktu itu sudah ekspor ke berbagai negara, juga ikut mendukung misi gubernur.

Saya masih ingat, setiap keluar negeri, Gubernur Sularso juga getol memasarkan Bromo. Tourism Marketing! Belakangan, saya baru mengerti bahwa yang dilakukan waktu itu kini disebut Place Marketing! Memasarkan suatu kawasan. Bisa negara, provinsi, kota atau bahkan realestat.

Biasanya place marketing memang meliputi TTI Marketing atau trade, tourism, and investment marketing. Memasarkan perdagangan, pariwisata, dan investasi. Sekarang TTI diubah jadi tourism, trade, and investment! Menurut saya itu lebih pas.

Kenapa? Karena tourism paling praktis dan simpel. Turis tidak menanggung risiko ketika mengunjungi suatu tempat. Selanjutnya memang perdagangan, karena risikonya lebih besar. Meyakinkan importer untuk membeli barang dari suatu wilayah tidak gampang. Ada risiko kualitas produk tidak sama dengan sampelnya. Ada risiko penerimaan produk terlambat dari jadwal yang dijanjikan. Ada risiko produk ilegal dan sebagainya!

Yang paling susah pasti investasi atau penanaman modal. Waktu itu, Gubernur Sularso memerintahkan kepada jajaran BKPM untuk memberikan red carpet kepada para investor.

Tapi, itu pun susah, apalagi zaman itu. Pengusaha luar takut peraturan kita berubah-ubah. Takut kalau pekerja Jawa Timur tidak kooperatif dan susah diatur. Belum lagi mereka khawatir akan disiplin kita sehingga produksi tidak lancar atau menghasilkan produk yang kualitasnya tidak standar.

Gubernur Sularso percaya akan Jatim Incorporated atau kerja sama pemerintah dan swasta. Banyak proyek inisiatif pemda yang diminta dikerjakan swasta. Dengan demikian, risiko usahanya pindah ke swasta. Selain itu, tidak usah mengganggu APBD yang tidak besar. Karena itu, saya juga diangkat jadi ketua Yayasan Promosi Pariwisata Jawa Timur. Kerjanya mengoordinasikan semua pemkab dan pemkot untuk memfokuskan upaya pemasaran pariwisata Jawa Timur. Selain itu, saya pernah diangkat jadi wakil ketua Badan Promosi Investasi Jawa Timur. Ketuanya adalah ketua BKPMD Jawa Timur.

Dengan membantu pemda, saya terlibat juga dalam hubungan Sister Province Jatim dan Perfecture Osaka, Jepang. Hubungan kerja sama antardua pemda itu sebenarnya merupakan upaya memasarkan Jatim di Osaka dan memasarkan Osaka di Jatim.

Bagi saya semua hal sebenarnya bisa dilihat dari kaca mata marketing. Bahkan, saya melihat para pengusaha yang ikut rombongan gubernur itu pun me-marketing-kan dirinya. Sebelum memasarkan produk atau perusahaannya, seorang pengusaha biasanya pintar memasarkan diri. Sebagai orang yang siap menjadi partner yang reliable!

Memasarkan diri sebagai partner yang tahu situasi lokal. Yang bisa dipercaya! Yang punya akses ke mana-mana. Yang siap inves juga dan menanggung rugi kalau bisnisnya gagal.

Bahkan, saya masih ingat, ketika itu, bos Maspion Ali Markus selalu membagikan kartu nama yang berlapiskan emas! "This is my Gold Card! I am ready to be your partner". Itulah selalu kata-kata yang diucapkan Pak Alim kalau memulai pidato di depan para pengusaha luar negeri.

Alim Markus selalu membanggakan diri sebagai orang yang bukan lulusan sekolah tinggi, tapi cukup sukses di dunia usaha. Saya bahkan pernah diajak keliling pabriknya dengan disetiri sendiri pakai mobilnya. Sedangkan pengusaha lain kebanyakan tidak pintar pidato, tapi pintar "memasarkan" diri lewat cara lain.

Memang, seperti kata sebuah buku: "Marketing is everything, everything is marketing". Produk, jasa, wilayah, pariwisata, perdagangan, investasi, orang, bahkan ide bisa di-marketing-kan. Seolah ada "benang merah" di antara semua itu.

Pengalaman saya membantu pemda memberikan banyak pencerahan tentang marketing yang akhirnya makin membulatkan tekad saya untuk membuat konsep marketing sendiri. Terutama setelah melihat banyak kasus yang berbagai macam. Bukan hanya marketing yang ada di perusahaan. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar