Kamis, 11 Maret 2010

Grow with Character! (27/100) Series by Hermawan Kertajaya

Keep it Simple Stupid!

Sejak dulu saya mengagumi Kehnichi Ohmae. Dia seorang doktor, tapi juga konsultan di McKinsey. Jadi, cara berpikirnya tidak mbulet dan complicated.

Seorang konsultan dilatih untuk berpikir practical karena klien minta sesuatu yang bisa dijalankan. Klien tidak butuh suatu penelitian yang ngawang dan tidak menghasilkan suatu rekomendasi yang konkret.

Apalagi kalau penelitian yang kemudian membutuhkan penelitian selanjutnya. Nanti waktunya habis bikin penelitian aja tanpa ada tindakan.

Itu namanya paralysis by analysis. Jadi lumpuh karena terlalu banyak analisis!

Kehnichi Ohmae memengaruhi banyak cara berpikir saya. Please simplify the complex thing, do not complicate the simple thing! Di dalam buku Mind of a Strategist yang sangat memengaruhi konsep saya disebutkan TIGA C.

Ohmae menulis bahwa strategi sebuah perusahaan haruslah didasarkan pada tiga pilihan. Pertama, Company-based Strategy. Lihat apa strength and weakness Anda terlebih dulu. Lantas, bikinlah strategi berdasar pada kekuatan, jangan kelemahan. Jangan memaksakan diri "masuk" ke suatu area yang Anda sebenarnya nggak punya kompetensi.

Kelihatan sederhana kan? Tapi sangat benar adanya. Orang banyak "silau" akan suksesnya orang lain di suatu bidang dan ikut-ikutan. Akhirnya, gagal! Ingat lho, peluang tidak pasti pas untuk semua orang.

Jangan ikut-ikutan. Contohnya gampang!

Seorang teman saya bilang, jangan ikut-ikutan masuk ke area politik kalau Anda tidak punya thick face, black heart. Kenapa? Anda akan dihabisin di situ tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kedua, Customer-based Strategy atau buatlah strategi berdasar pada need and want customer. Ini juga kelihatan sederhana kan? Jangan menawarkan produk atau jasa yang tidak dibutuhkan dan dimaui pelanggan.

Banyak orang kepingin "unik" jadi terlalu unik, padahal keunikan itu tidak dibutuhkan pelanggan.

Yang lebih susah, biasanya need and want pelanggan itu sudah diketahui pesaing juga. Jadi, kalau menawarkan sesuatu, ya tidak ada bedanya. Makna mendalam dari hal ini adalah bagaimana cara mengetahui unspoken need and want. Artinya, pelanggan gak pernah minta, tapi sebenarnya mau!

Ketiga, Competitor-based Strategy. Maksudnya, Anda bisa membuat strategi berdasar pada strategi kompetitor. Kalau pesaing melakukan sesuatu, Anda punya pilihan. Mau mengikuti dan melebihi? Atau mau justru beda sama sekali supaya Anda menarik perhatian orang? Atau Anda justru jalan sendiri aja, seolah tidak menganggap ada pesaing? Kata orang, yang terakhir ini paling susah karena sering gagal karena strategi Anda gak ada benchmark-nya. Tapi, kalau berhasil, ya luar biasa.

Ohmae akhirnya juga mengatakan bahwa kalau bisa mempertimbangkan ketiganya, Anda akan luar biasa! Membuat strategi berdasar pada "kekuatan" sendiri untuk melayani "kemauan" pelanggan dengan memperhatikan "strategi lawan"!

Wah... Sederhana, tapi powerful kan? Strategi berdasar pada TIGA C: Company, Customer, and Competitor!

Saya amat kagum pada pemikirannya yang lugas dan bisa dijadikan umbrella bagi buku strategi yang ruwet! Karena itu pula, Kehnichi Ohmae sering digelari sebagai "Mr Strategy".

Lantaran saking kagumnya pada Ohmae, saya mengikuti pemikiran lanjutnya di buku Borderless World. Buku ini juga menjadi bestseller dunia karena dia menggambarkan "dunia tanpa batas negara" pada saat internet belum seperti sekarang. Jauh sebelum ada Facebook dan Twitter!

Kalau sekarang ada yang ngomong begitu, ya biasa aja. Tapi, Ohmae sudah melihat tanda-tanda itu sejak dulu.

Di dalam buku kedua itu, dia menggambarkan dunia yang SEDANG BERUBAH! Kata orang, ada tiga macam manusia. Manusia pertama, tidak tahu ada perubahan karena tidak melakukan apa-apa. Manusia kedua, tahu ada perubahan, tapi bingung mau melakukan sesuatu sebelum terlambat. Manusia ketiga, adalah yang ikut mendorong perubahan itu sendiri.

Buat saya, Ohmae termasuk yang ketiga karena dia ikut mendorong perubahan itu lewat buku yang ditulisnya. Di buku itu, dia menunjukkan bahwa persaingan bisnis pun tidak akan lokal lagi, tapi global.

Pesaing dan pelanggan bisa datang dari mana-mana, tanpa batas!

Dia juga menulis bahwa nanti banyak perusahaan multinasional yang bergerak tanpa menghiraukan batas-batas dunia.

Saya menyukai buku ini bukan hanya karena isinya, tapi juga judulnya: Borderless World! Dari judulnya saja, orang sudah bisa menduga isinya kira-kira apa... Saya sendiri berusaha menangkap "makna" buku ini untuk dihubungkan dengan buku pertama.

Saya bawa tidur, mimpi, dan jalan-jalan... Saya omong-omongin di seminar saya supaya saya benar-benar bisa menghayati maknanya. Sampai akhirnya terjadilah "AHA!" Di dalam otak saya! I DISCOVERED SOMETHINK BEAUTIFUL! Apa itu?

CHANGE sebagai C KEEMPAT yang penting untuk dipertimbangkan dalam membuat Strategi. Kenapa?

Saya berpikir sederhana aja, kalau orang hanya membuat strategi berdasar pada TIGA C pertama, bisa-bisa strategi itu tidak akan sustainable! Karena tidak mempertahankan Change yang akan terjadi! Change yang bukan dari elemen Customer dan Competitor sering "memaksa" Company untuk mengganti strateginya. Makanya, lebih baik Change dipertimbangkan lebih dulu.

Paling enggak supaya sudah bisa memprediksi apa-apa yang akan terjadi. Dengan demikian, strategi yang dibuat akan mempertimbangkan Customer Behavior dan Competitor Strategy yang keep on changing!

Sesudah tahap AHA, saya masuk ke tahap WOW! Tom Peters memang pernah menulis hal ini. Buat saya, AHA terjadi pada tahap DISCOVERY. WOW terjadi pada tahap INVENTION!

Segera saja saya gabungkan empat C itu di dalam model pertama saya: CHANGE-COMPETITOR-CUSTOMER-COMPANY! Nah, model FOUR-C inilah yang akhirnya membuat Prof Philip Kotler, "mbah"-nya marketing memuji saya. Karena bisa menyederhanakan teori yang ruwet-ruwet tentang Strategi.

Rahasia "menggabungkan" dua buku Kehnichi Ohmae jadi model "pertama" saya ini selalu saya ungkapkan di mana pun ada kesempatan.

Anehnya, Kenichi Ohmae dan saya adalah hanya dua orang Asia yang masuk di daftar Fifty Gurus who have shaped the Future of Marketing oleh Chartered Institute of Marketing-United Kingdom pada 2003!

Suatu penghargaan dari sebuah asosiasi profesi pemasaran yang sangat "konservatif" dan terbesar di dunia. Saya tidak pernah meng-claim bahwa model 4 C yang sekarang dipakai di mana-mana dan menjadi dasar penulisan lima buku internasional saya bersama Philip Kotler adalah hasil suatu riset ilmiah.

Hanya hasil sebuah penalaran logis, tapi bisa jadi model yang simple, umbrella, dan redefinif dari semua pemikiran yang ruwet-ruwet! Keep it Simple Stupid!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar