Senin, 07 Juni 2010

Grow with Character! (90/100) Series by Hermawan Kartajaya - Jakarta CMO Club: Indonesia Bisa!

Jakarta CMO Club: Indonesia Bisa!

KEDATANGAN “kembali” Prof Philip Kotler ke Indonesia tepat pada HUT Ke-40 ASEAN yang juga dihadiri Presiden SBY cukup menggetarkan. Saya “mengawal” Philip Kotler dua puluh empat jam selama lima hari empat malam di Jakarta, supaya dia merasa “aman”!

Mendadak saja, Philip Kotler jadi jatuh cinta ke Indonesia sebagai “ibu kota” ASEAN. Karena itu, langsung saja saya usulkan pada dia untuk segera mendirikan Jakarta CMO Club di bawah Philip Kotler Center for ASEAN Marketing (PK-CAM).

Sejak 2006, ketika bertemu di Beijing dan Shanghai, Philip Kotler sudah berbicara tentang perlunya mempromosikan chief marketing officer atau CMO! Dia mengatakan bahwa yang lazim ada di sebuah perusahaan hanyalah COO dan CFO setelah CEO. Marketing dan fungsi lain biasanya paling tinggi sering direktur dan melapor kepada COO.

Itu pandangan orang finance yang menganggap bahwa perusahaan harus “dioperasikan” sedemikian rupa oleh COO supaya bisa menghasilkan return dari uang yang diinves. Itulah yang diurus CFO. Dalam pandangan orang finance, semua orang lain dalam perusahaan harus bekerja secara maksimal, sehingga menciptakan nilai. Karena itu, mereka mengenal yang disebut operational leverage. Artinya, kalau secara operasional leverage-nya bagus, akan terjadi value creation. Nah, di situ sudah campur aduk “jasa” dari orang marketing, IT, human resources, produksi, atau operasi .

Karena itu, mereka cukup dikasih “pangkat” direktur paling tinggi, tidak bisa jadi chief. Sebab, kalau sudah chief berarti sudah berada dalam posisi “strategis”. Sedangkan CFO juga diharapkan bisa melakukan financial leverage secara maksimal. Artinya, dia bisa bermain-main di pasar modal dan uang supaya dapat “tambahan” added value. Sering bahkan financial leverage jadi lebih penting daripada operational leverage.

Terutama kalau COO hanya melakukan sesuatu yang rutin, sedangkan CFO cukup kreatif! Nah, menurut Philip Kotler, itu tidak fair. Terutama untuk perusahaan yang benar-benar menjalankan marketing dengan “baik dan benar”. Kenapa?

Ya, karena operational leverage di perusahaan seperti itu sebagian besar, kalau tidak seluruhnya, dihasilkan oleh sebuah marketing leverage! Artinya, perusahaan seperti itu bisa mendapatkan nilai tambah dari brand dan servis, misalnya, bukan cuma pintar banting harga. Dengan demikian, bisa mendapatkan margin lebih tinggi.

Dari situlah dasarnya mengapa CMO atau chief marketing officer perlu ada. Tugasnya tentu saja bukan menjalankan marketing secara taktikal, melainkan benar-benar harus memaksimalkan marketing leverage! Beberapa perusahaan MNC seperti GE sudah punya CMO. Biasanya para CMO ini in charge untuk beberapa divisi yang bisa saling bersinergi sehingga terjadi marketing leverage.

Alasan lagi perlu dipromosikannya CMO ini adalah karena orang HR dan IT juga mulai memakai istilah CHRO dan CIO! Bahkan, ada yang lantas latah pakai istilah chief change officer, chief innovation officer, dan sebagainya. Bagi saya, itu oke-oke saja, pokoknya bisa memaksimalkan leverage di bidang masing-masing. Itulah kata kuncinya!

Jakarta CMO Club adalah yang pertama dibentuk di ASEAN, sekali lagi karena Jakarta kan “ibu kota” ASEAN. Anggota diundang secara selektif dan sampai sekarang, sebagian besar anggotanya malah CEO atau founder perusahaan. Saya beruntung dibantu Jenny Poespita yang orang Surabaya, tapi sudah pindah Jakarta. Sejak pendiriannya pada Februari 2008, Jenny membantu secara sukarela untuk menjalankan organisasi nirlaba ini.

Jenny sendiri yang eks anggota MarkPlus Forum Surabaya adalah entrepreneurial marketer dengan semangat juang tinggi.

Pada saat ini “White Lotus”, brand yang diciptakannya sudah jadi brand nasional untuk healthy catering. Saya sendiri dan beberapa anggota Jakarta CMO Club adalah pelanggannya. Setiap hari dua kali kami dikirimi “bento” yang diracik berdasarkan hasil tes darah masing-masing, supaya terjaga meal intake-nya. Pada saat ini, Jenny lagi mengembangkan produk-produk baru dengan brand White Lotus dan sudah bermitra dengan pengusaha besar di Jakarta. Dengan menggunakan brand yang sama, sudah pasti terjadi sinergi sehingga terjadi marketing leverage.

Jadi, Jenny adalah seorang CMO yang secara voluntary mengorganisasikan Jakarta CMO Club. Pada saat ini, anggota CMO hampir seratus orang dari berbagai perusahaan di Indonesia. Hampir setiap bulan ada pertemuan yang disponsori anggota secara bergiliran. Anggota yang mendapat undangan cukup membayar satu kali life time yang dipakai untuk administrasi dari organisasi Jakarta CMO Club.

Tepat di HUT Ke-78 pada 27 Mei 2009, Prof Philip Kotler dan Menbudpar Jero Wacik hadir di pertemuan CMO di Galeri Nasional Jakarta. Philip Kotler sangat puas dengan dimulai sebuah CMO Club di Jakarta yang nanti bisa di-expand ke kota-kota lain di ASEAN.

Saya lebih puas lagi karena bisa menerjemahkan “kegelisahan” Kotler jadi suatu “solusi”. Tapi, yang lebih penting? Dimulai dari Jakarta dulu! Indonesia Bisa! Indonesia Bisa! Indonesia Bisa! (*)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar