Senin, 07 Juni 2010

Grow with Character! (87/100) Series by Hermawan Kartajaya - Ingat Nabi, Belajarlah Sampai ke Tiongkok!

Ingat Nabi, Belajarlah Sampai ke Tiongkok!

DI
Tiongkok ada Kotler Marketing Group atau KMG yang dipimpin Milton
Kotler. Dia itu adik Philip Kotler yang usianya berbeda dua tahun.
Walaupun usia hampir sama, sikap dan perilaku mereka sangat berbeda.


Philip adalah seorang Demokrat, tapi Milton merupakan Republican.
Philip hidup sangat sehat dan teratur, sedangkan Milton adalah perokok
cerutu berat. Philip adalah profesor, Milton menjadi konsultan dan
sekaligus deal maker. Philip pergi ke mana-mana karena undangan
datang dari seluruh dunia. Sedangkan Milton suka ke Tiongkok, bisa
delapan kali setahun.

Di Tiongkok, KMG punya kantor mulai Sen
Zhen, ekspansi ke Shanghai, dan akhirnya Beijing. Total ada 60 orang
yang bekerja di KMG, sehari-hari dipimpin Tiger Chao. Milton sangat
suka kepada Tiger karena dia orang Tiongkok asli, tapi lulusan MBA dari
Kanada. Dialah yang merekrut semua staf yang hampir semua orang
Tiongkok Daratan.

Selain itu, Milton punya seorang asisten
pribadi yang sangat fasih berbahasa Tionghoa. Dia bule, tapi sudah
lebih dari sepuluh tahun tinggal di Tiongkok. Orang seperti dia saat
ini banyak dicari orang.

Mengapa? Anda mungkin tergiur untuk
masuk pasar Tiongkok yang begitu besar. Tapi, kalau hanya berbahasa
Inggris, jangan harap bisa diterima di sana. Karena itu, kalau sempat
ke kampus BLCU atau Beijing Language and Cultural Center, Anda akan
melihat orang belajar bahasa Tionghoa dari seluruh dunia.

Pak
Dahlan Iskan, konon, pernah belajar bahasa Tionghoa di Nanchang, Jiang
Xi, sebuah kota kecil yang tidak ada orang Indonesia. Selain itu, di
kota tersebut katanya gak ada orang yang bisa berbahasa
Inggris. Jadi, mau gak mau, ya harus bisa survive
dengan bahasa ”tarzan” sambil belajar bahasa Tionghoa dengan cepat. Nah,
kalau Pak Dahlan sekarang sangat fasih berbahasa Tionghoa, bahkan
beberapa kali kirim SMS pakai tulisan Kanji ke saya, Milton gak bisa. ”I
am too old to learn, Hermawan.

Tapi, dia sangat percaya
bahwa masa depan Amerika dan dunia nanti ditentukan oleh Tiongkok.

Milton
dan Tiger adalah dua orang yang mengundang saya untuk ke Tiongkok
beberapa kali guna bicara di berbagai acara, termasuk di kampus Tsing
Hua yang terkenal itu. Saya takjub bukan main kepada semangat belajar
para peserta.

Mereka sangat disiplin. Maklum ”masih” negara
komunis secara politik, walaupun kapitalis secara ekonomi. Orang
Tiongkok pada umumnya sangat takut melanggar hukum. Mereka juga
”penganut” Confucius karena itu sangat hormat pada keguru atau lao-she.
Apalagi, kalau tahu bahwa saya dulu memang pernah menjadi lao-she
selama 20 tahun di SMA dan SMP. Bahkan, saya pernah menjadi siau
tsang
atau kepala sekolah!

Waktu tanya jawab, selalu banyak
yang tanya. Mulai jarang tepat waktu, apalagi selesainya. Bisa molor gak
keruan karena semua orang pengin tanya! Apalagi tahu bahwa
saya menulis beberapa buku bersama Philip Kotler.

Selama di
Beijing dan Shanghai, kalau kebetulan ada Philip Kotler, saya diminta
untuk duduk di sebelahnya terus! Karena masih suasana ”komunis”, siapa
yang duduk di sebelah orang paling penting ya pasti penting juga!

Itulah
kebudayaan Tiongkok. Mereka juga pekerja keras siang malam. Karena
itu, pada suatu hari, saya diminta untuk melakukan seminar sehari pada
Minggu! Ada 500 orang pengusaha menengah kecil yang datang dan
mendengarkan terjemahan dengan tekun. Katanya, kalau diselenggarakan
pada hari biasa, mereka gak mau datang karena harus kerja atau
”jaga” perusahaannya.

Edan kan! Beijing dan Shanghai
berbeda. Di Beijing harus ada penerjemah, sedangkan di Shanghai sering
tidak perlu. Banyak sekali orang Shanghai yang bahasa Inggris-nya jauh
lebih bagus daripada saya.

Pernah suatu kali saya diwawancarai
televisi di Beijing atas pengaturan KBRI. Setelah tanya-tanya marketing,
lantas ”belok” ke pertanyaan peristiwa 1998. ”Mereka masih ingat dan
ngeri dengan peristiwa itu,” kata Dubes RI kepada saya. Kita sudah lama
lupa dan memang gampang lupa. Sedangkan mereka masih takut pergi ke
Indonesia karena trauma.

Di Tiongkok saya punya buku laris dalam
bahasa Tionghoa. Marketing in Venus yang populer di Indonesia
itu diterjemahkan dan diberi contoh lokal. Co-author-nya
adalah Tiger Chao dan di-launch beberapa tahun lalu di sebuah
toko buku terbesar di Beijing.

Ada satu lagi pengalaman berbicara
di Hainan University. Di Pulau Hainan, yang terkenal dengan Hainan
Chicken Rice itu, sering diadakan final Miss Universe di kota Sanya.
Juga ada pertemuan tahunan mirip Davos, namanya Boao Summit.

Saya
sempat meninjau ke sana, waktu diundang Hainan University. Uniknya,
ketika saya mulai berbicara di depan 300 dosen dan mahasiswa S-2,
tiba-tiba lampu mati. Ternyata di sana PLN-nya juga kurang reliable.
Tapi, saya takjub, tidak ada satu pun orang ”bersuara”, apalagi
berteriak-teriak komplain. Cukup ada penjelasan bahwa akan ada genset,
semua terkendali.

Itulah Tiongkok Daratan! Pengalaman berbicara
di Hongkong dan Taiwan lain lagi. Di Hongkong ternyata banyak eksekutif
yang tidak bisa bahasa Inggris dengan bagus. Tapi, mereka sangat demanding
dan kritis. Maklum, orang-orang ini kan yang dulu nekat
melarikan diri dari Tiongkok. Jadi, maunya harus cepat dan no-nonsense.
Wartawan yang wawancara pun ”ganas”. Selalu nguber ke hal-hal
yang detail.

Nah, kalau Taiwan, orangnya lebih civilised.
Mereka sopan, respect, dan elegan. Mereka sudah lama terbiasa
dengan marketing. Jadi, sifatnya mau diberi sesuatu yang baru.
Nah, kesimpulan dari pengalaman saya muter-muter di Tiongkok
ini adalah China is not One. China is a Continent!


Sangat besar dan beragam, apalagi kalau sudah masuk ke kota-kota
yang lebih kecil. Tapi, dari kengototan belajar marketing dan
begitu banyaknya brand kuat di dalam negeri sendiri, saya
percaya pada 2020 nanti makin banyak brand dari Tiongkok yang
kuat!

Mereka tidak hanya jual harga, tapi pakai marketing.
Pada saat ini, sekolah-sekolah bisnis terbaik di US berlomba-lomba
berpartner dengan sekolah bisnis di Tiongkok. Jangan kaget, the best
business school in Asia
sekarang adalah Bei-ta atau Beijing
University. Bukan dari Singapura, Hongkong, atau Filipina.

Dunia
sudah bergeser dari Barat ke Timur. Tiongkok sudah bangkit dan dalam
tahun ini akan menjadi negara ekonomi terbesar kedua di dunia. Dan
terkaya di dunia. Sedangkan Amerika masih tetap nomor satu dengan ”beda
yang jauh”, tapi sekaligus pengutang terbesar di dunia. Utang sama
siapa? Siapa lagi kalau gak sama Tiongkok!

Karena itu,
percayalah kepada Nabi Muhammad untuk ”belajar sampai ke Tiongkok”. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar