Rabu, 14 April 2010

Grow with Character! (79/100) Series by Hermawan Kartajaya - Enterprise = Mind, Soul, and Body

Enterprise = Mind, Soul, and Body

BANYAK perusahaan yang punya misi, visi, dan values atau VMV yang indah. Tapi, itu baru permulaan karena harus ada institusi yang mendukungnya. Institution ini di konsep SME saya adalah komponen ketiga sesudah inspiration dan culture. Mengapa?

Ya, di sinilah semua inspirasi yang sudah dicanangkan dan budaya yang sudah solid itu diorganisasikan supaya bisa create value yang sesungguhnya. Kata Alfred Chandler dalam bukunya yang klasik, Structure Follows Strategy!

Artinya, Anda tidak boleh membuat struktur dulu baru membuat strategi. Tapi, harus sebaliknya. Struktur harus mengikuti strategi supaya bisa dilaksanakan dengan baik. Karena itu, kalau strategi berubah, struktur pun harus berubah.

Dalam menulis model enterprise di SME ini saya banyak tepengaruh oleh model 7 S-nya McKinsey. S yang di tengah adalah shared values dan dikelilingi keenam S yang lain. Strategy, structure, dan system adalah tiga S yang disebut hardware of organization. Sedangkan staff, skill, dan style bersama shared values disebut software of organization.

Di model SME saya, institution terdiri atas organizational structure dan balance scorecard! Di dalamnya juga ada pengukuran objektif dengan alat kontrolnya. Isi komponen ketiga ini memang sangat “padat”. Tapi, logika berpikirnya runtut. Culture sebagai komponen kedua dari institution tidak bisa bermakna tanpa ada itu semua. Kenapa?

Karena culture lebih bersifat software, sedangkan struktur beserta sistemnya adalah hardware. Sejalan dengan model 7 S, culture yang komponen utamanya shared values dan common behaviour kan memang merupakan sikap dan perilaku staf. Staf dengan skill yang spesifik dan dipimpin oleh suatu style of leadership yang khas akan merupakan software organisasi yang unik!

Di dalam dunia ICT, software memang otaknya, karena itu sangat penting. Tapi, itu semua tidak ada gunanya kalau tidak ada perangkat keras atau hardware-nya! Nah, begitulah kira-kira hubungan antara komponen kedua dan ketiga di model SME.

Suatu organisasi yang bagus berarti punya sistem manajemen yang bagus, termasuk “alat pengukur” pencapaian. Para akuntan mengambil inisiatif dengan memperkenalkan balanced score card. Artinya, yang diukur bukan hanya pencapaian finansial, tapi juga customer operation dan SDM-nya. Buat saya, ini penting, karena harus ada pengukuran yang komprehensif seperti itu supaya perusahaan bisa sustainable. Kalau hanya diukur pencapaian finansial, aspek-aspek lain akan terabaikan.

Walaupun orang sering memakai istilah UUD atau “Ujung-ujungnya Duit”, untuk menghasilkan duit secara berkelanjutan harus ada upaya komprehensif. Pencapaian sendiri bisa dibagi pada berbagai level organisasi menurut strukturnya.

KPI diatur supaya setiap orang tahu apa yang diharapkan dari dia. Orang yang “di bawah” harus menunjang pencapaian “atasan”-nya. Begitu juga, KPI diatur menurut jangka waktu. Kalau visi biasanya panjang dan lebih abstrak, goal lebih pendek dan konkret. Di komponen ketiga ini, saya “memasang” objektif sebagai terjemahan dari goal yang lebih jangka pendek lagi. Bisa tahunan, bulanan, mingguan, harian, bahkan real time.

Dengan adanya sistem ERP atau enterprise resource planning yang berbasis ICT, pengukuran real time ini bisa dilakukan secara praktis.Balanced score card pun bisa “diimplant” di ERP. Dengan demikian, tiap-tiap orang dalam organisasi bisa melihat dan mendapat warning akan pencapaiannya secara real time juga.

ERP berfungsi kayak “urat saraf”-nya perusahaan. Kalau satu bagian dari organisasi lagi “sakit”, bagian lain tahu sehingga bisa segera melakukan tindakan “proaktif”. Di dalam landscape yang serbacepat ini, ERP sangat dibutuhkan supaya organisasi perusahaan itu tidak “mati rasa”.

Manusia yang sudah “mati rasa” atau “kebal sebagian” pun akan dalam keadaan berbahaya. Tidak bisa cepat merespons perubahan. Begitu juga organisasi.

Hubungannya dengan marketing? Jelas sangat erat. Bagi saya, selain internal customer yang karyawan dan external customer, ada customer “ketiga” yang justru sangat penting. Siapa? Pemegang saham atau inventor untuk sebuah perusahaan publik. Harus ada KPI untuk mengakur indikator kepuasan third customer ini. Kalau tidak, perusahaan akan ditutup atau dibangkrutkan oleh mereka!

Karena dasar marketing itu memang untuk memuaskan semua pelanggan, karena itu model score card yang komprehensif saya “pasang” di komponen instutution ini. Nah, sekarang sudah jelas kan?

Enterprise terdiri atas inspiration, culture, dan enterprise! Kayak manusia yang harus punya mind, soul, dan body. Inspirasi timbul di mind, culture merupakan soul, dan institusi adalah body. Ini semua juga akan saya jelaskan secara gamblang di MarkPlus Festival 1 Mei mendatang. (*)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar