Rabu, 14 April 2010

Grow with Character! (74/100) Series by Hermawan Kartajaya - Hambatan? Dapatkan Aha dan Rasakan Wow!

Hambatan? Dapatkan Aha dan Rasakan Wow!

SETELAH buku pertama bersama Prof Philip Kotler sukses, jalan jadi lebih terbuka.

Pada suatu hari di Singapura, setelah selesai bicara, saya disapa seorang Indonesia. Dia ternyata staf Prentice Hall Asia yang berkantor di Singapore. “Pak Hermawan, kenapa buku Repositioning Asia diterbitkan John Wiley?”

Saya langsung melihat “peluang”. Pasti ini adalah tanda-tanda persaingan antara dua penerbit raksasa itu di Asia. Repositioning Asia memang diterbitkan John Wiley Asia. Bosnya yang orang bule sampai datang ke Jakarta menemui saya untuk “merebut” penerbitannya waktu itu.

Dia berani menawarkan “advance” dan “royalty” lebih tinggi daripada biasanya. Dia juga ngaku kepingin menerbitkan buku yang ditulis Philip Kotler untuk yang pertama!

Sebuah penerbit besar seperti Wiley memang bersaing agar dapat nama besar pengarang. Nah, saya waktu itu lebih memilih Wiley karena Prentice Hall lebih fokus ke text book. Padahal, Repositioning Asia kan tergolong trade book. Karena itu, saya mengatakan hal yang sebenarnya kepada staf Prentice Hall itu.

Tapi, dia ngotot. “Kami juga bisa mempromosikan buku Pak Hermawan dan Kotler secara hebat.”

Oh ya, wah syukurlah kalau begitu.”

“Apalagi bos kami, Regional Manager Asia Prentice Hall, adalah orang Indonesia!”

“Wah… kalau begitu, ayo kita bicara,” kata saya bersemangat karena sesama orang Indonesia di luar negeri kan harus saling mendukung!

Saya melihat peluang jadi lebih besar lagi sekarang, yakni kemungkinan untuk membuat buku internasional kedua oleh penerbit lain.

Saya tahu Prentice Hall di bawah Pearson Group adalah penerbit buku teks legendaris Philip Kotler di dunia, baik untuk “undergrad“, “postgrad“, bahkan program diploma.

Saya juga tahu sudah ada yang versi Asia untuk yang postgrad dengan co-author tiga orang professor dari NUS yang teman-teman saya juga. Karena itu, saya menawarkan untuk membuat versi Asia dari yang undergrad. Saya berpikir, ini adalah peluang “masuk” ke Wiley Asia secara mulus, sambil menyisipkan model Marketing Plus 2000 di situ.

Dugaan saya benar! Mereka suka dengan ide saya, Kotler pun oke dengan ide itu. Sebab, ternyata, versi Asia bisa mem-boost penjualan di Asia sendiri. Ini pengalaman dari buku teks yang postgraduate itu.

Apalagi Kotler juga harus mempertahankan diri dari pesaingnya yang mulai membuat Buku Teks Marketing yang beda lagi approach-nya.

Nah, untuk memperkuat positioning sebagai buku teks itulah, saya lantas mengajak dua professor. Satu dari Singapura, satu dari Hongkong!: pusat-pusat Asia di waktu itu pascakrisis di awal tahun 2000-an. Tiongkok dan India belum sebesar sekarang!

Tentu saja, saya mengajak orang yang saya kenal. Profesor Hooi Den Huan dari Nanyang Business School dan Profesor Sandra Liu dari Baptist University. Dua orang itu saya kenal baik di pertemuan-pertemuan APMF!

Karena saya sudah sukses dengan buku pertama bersama Kotler, semuanya jadi gampang. Mereka amat senang membantu mengumpulkan kasus-kasus menarik dari wilayah masing-masing. Mereka bahkan berterima kasih karena diajak menulis dengan sang Mahaguru Kotler.

Impian mereka sejak dulu kini tiba.

Kotler pun setuju usul saya karena sudah mulai punya trust ke saya. Apalagi Sandra Liu yang pegang paspor AS itu pernah magang dan diberi kantor pas di sebelah kantor Kotler di kampus Kellogg!

Semua persiapan mulus, bahkan contoh-contoh dari berbagai negara sudah dikumpulkan. Sampai ada sebuah bad news bahwa proyek dihentikan!

Wiley Asia minta maaf karena Wiley pusat tidak setuju akan proyek ini. Alasannya, bisa mengurangi omzet penjualan buku teks aslinya.

Wah… ini kan cuma “kantong kiri, kantong kanan”. Saya tidak menerima begitu saja dan menyelidik terus.

Akhirnya, saya tahu bahwa ternyata tiga co-author versi Asia dari buku teks post graduate memang punya opsi untuk meng-Asia-kan buku yang undergrad.

Philip Kotler pun bilang sorry karena tidak menyadari akan hal ini. Terus terang, saya shock berat ketika itu. Saya merasa diperlakukan “tidak fair” ketika itu.

Kenapa nggak diberi tahu sejak dulu? Yang ambil inisiatif untuk proyek ini pun bukan saya. Justru “diminta” untuk menererbitkan satu buku bersama Prentice Hall. Tapi, secara legal, saya memang lemah karena belum ada perjanjian apa pun.

Semuanya hanya secara lisan.

Karena itu, saya lantas putar otak. Bagaimana caranya supaya proyek bisa tetap jalan secara win-win. Akhirnya, Aha… saya dapat jalan keluarnya. Out of the box!

Saya dan Prof Hooi menawarkan penerbitan sebuah buku yang beda sama sekali. Buku ini benar-benar pakai model Marketing Plus 2000 yang ketika itu sudah saya “perkaya” jadi Sustainable Market-ing Enterprise atau SME! Tetap SME in Asia karena semua kasus sudah terkumpul! Dan itu bisa dibundel dengan buku teks global yang dari Amerika!

Setelah beberapa kali diskusi, Prentice Hall Asia setuju! Syaratnya, di Nanyang Business School, buku “teks kedua” ini benar-benar dipakai. Prof Hooi otomatis setuju melakukan itu. Wow!

Akhirnya, buku itu bisa diterbitkan dengan mulus! Malah diterbitkan ke berbagai bahasa di Asia, termasuk bahasa Thai, Tionghoa yang tradisional maupun yang simplified, Vietnam, dan Indonesia!

Saya sendiri merasa bersyukur karena buku itu sekarang dicetak berulang-ulang dan sudah dipakai di berbagai sekolah bisnis di Asia. Malah untuk undergrad dan postgrad.

Apalagi buku kedua itu merupakan penjelasan tentang model saya yang dipakai untuk membahas krisis Asia di buku pertama.

Pelajarannya?

Jangan kecewa dan putus asa ketika Anda mendapat hambatan. Juga jangan sampai marah dan stres sehingga nggak bisa mencari solusi. Akhirnya, berpikirlah out of the box untuk menemukan solusi kreatif. Kalau sudah begitu, Anda akan mendapatkan Aha dan merasakan Wow! (*)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar