Senin, 22 Februari 2010

Grow with Character! (17/100) Series by Hermawan Kartajaya

Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil!

TERUS terang, hari-hari pertama setelah saya mendirikan MarkPlus Professional Service di Surabaya pada 1 Mei 1990, saya gelisah. Biasanya naik Toyota Crown Salon, lantas naik Toyota Corolla. Cicilian lagi! Baru kasih uang muka Rp 20 juta dan ngutang 24 bulan. Itu pun belum pasti bisa bayar lunas.

Kartu nama yang semula direktur PT HM Sampoerna menjadi MarkPlus Professional Service tanpa jabatan. Malu soalnya. Masa ditulis direktur atau managing director, gak punya karyawan sama sekali. Perusahaan satu orang atau one man show.... Alamatnya dari pabrik Sampoerna di SIER ganti ke alamat rumah Taman Prapen Indah C 8.

Terus terang, waktu itu saya minder setiap ditanya orang. Mengapa kok keluar dari Sampoerna?

Jarang sekali ada orang yang sudah menjadi direktur di perusahaan besar mau resign kalau gak ada masalah. Tidak sedikit yang bertanya, apakah saya di-kick out karena korupsi? Maklum, hal itu memang terjadi lebih dari sekali pada waktu yang lalu.

Apalagi, jabatan direktur distribusi Sampoerna memang cukup ''rawan''. Penuh godaan. Para pedagang besar sering menggoda untuk minta jatah Dji Sam Soe lebih besar untuk ''menguasai'' pasar. Sebab, Dji Sam Soe memang tidak punya pesaing. Jadi, penguasaan suplai bisa menentukan harga! Itulah ciri-ciri pasar monopoli.

Sedangkan di dalam situasi persaingan murni, penguasaan salah satu brand tidak ada artinya. Alasannya, itu bisa di-substitute dengan mudah oleh brand lain. Satu-satunya hal yang ''menghibur'' saya waktu itu cuma adanya kebebasan pakai baju kerja dan dasi tiap hari!

Terus terang, ini yang saya dambakan waktu di Sampoerna. Sebab, waktu itu semua orang, termasuk Pak Putera Sampoerna, harus pakai batik seragam tiap hari. Jadi gak ada kesempatan untuk pakai dasi!

Karena belum laku, kegiatan rutin satu-satunya adalah menghadiri pertemuan mingguan Rotary Club Surabaya Rungkut. Lumayan enak sih. Dulu, kalau hadir di meeting, saya selalu khawatir dipanggil ke kantor. Waktu sudah tidak di Sampoerna, gak ada yang nyari lagi. Ikut pertemuan bisa sampai habis, bahkan masih bisa ngobrol sesudah pertemuan.

Kali pertama saya hadir di pertemuan Rotary tanpa batik, teman-teman tahu bahwa saya sudah ''nekat'' keluar dari Sampoerna. Seorang Rotarian teman saya se-club yang konsultan pajak sempat bertanya apakah keputusan saya benar? Apa lagi buka konsultan di bidang marketing yang waktu itu gak dimengerti orang. Tolong diingat-ingat, waktu itu masih 1 Mei 1990, Pak Harto masih ''kuat-kuat''-nya.

KKN masih sangat menentukan kejayaan bisnis, bukan competitiveness. Monopoli dan lobi jauh lebih menentukan daripada marketing dan entrepreneurship! Teman saya tadi sampai bilang: ''Siapa yang ngerti marketing? Lebih baik ganti haluan menjadi konsultan accounting atau pajak. Pasti ada pasarnya, bahkan gede banget. Sebab, semua orang pasti membutuhkan pembukuan dan bayar pajak!''

Tapi, saya langsung menirukan apa yang pernah dikatakan Putera Sampoerna kepada saya. ''It is better to be a Big Fish in a Small Pond than to be a Big Fish in a Big Pond!'' Pasar konsultasi accounting dan tax memang besar sekali. Tapi, pemainnya sudah sangat banyak. Sudah banyak pemain besar dan saya akan menjadi ''pecundang''.

Dji Sam Soe sendirian di pasar yang tidak besar. Saya pun pengin MarkPlus menjadi sendirian di pasar konsultan marketing yang baru saya ''mulai'' sendiri! Bahkan, teman saya tadi sempat meramal umur MarkPlus hanya akan ''tiga bulan''.

Namanya aja MarkPlus, jadi pasti ''mak'' dan ''plus''! Artinya, muncul sekarang dan mati tiga bulan lagi! Itulah yang justru memberikan semangat saya untuk bangkit. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar